SEKOTOR APAPUN SALJU PADA AWALNYA DIA BERWARNA PUTIH

Oktober 29, 2010 - Leave a Response

Apa kalian mengetahui, apa yang akan terjadi setelah kematian?

Pernah aku lihat sebuah stasiun televisi memberikan sebuah gambaran mengenai kehidupan dengan sebuah lilin yang diletakkan di dekat jendela. Lilin itu adalah kehidupan kita, yang semakin lama semakin menyusut karena usia. Pada akhirnya, lilin itu habis dan apinya mati. Itulah yang dinamakan kematian. Namun, lilin itu kembali menyala. Hanya saja, letak lilin itu menjadi berada di sisi lain jendela tersebut.

Itulah yang dinamakan “kepercayaan”. Namun, semua itu hanyalah dugaan yang tidak bisa dibuktikan jika kita tidak mengalaminya secara langsung dan pribadi. Kita tetap tidak bisa menjamin kebenaran akan hal itu. Apakah terjadi seperti yang digambarkan, ataukah yang ada hanyalah kegelapan dan kehampaan abadi?

Aku duduk di sini sambil menerawang, memandang ke arah dalam rumah duka itu. Aku belum berani menjejakkan kakiku ke dalam ruangan itu. Aku hanya bisa terpatung dan terhenti di sini. Aku belum menemukan alasanku untuk segera masuk ke dalam ruangan itu. Walau orang yang wafat itu adalah sobatku, kekasihku, belahan jiwaku dan tulang rusukku, itulah sebutan yang pantas bagi orang itu. Sobat dikala suka dan duka, kekasihku yang mengisi kekosongan hati ini, belahan jiwaku yang membuatku menjadi hidup dan tulang rusukku yang membuat diriku menjadi “lengkap”. Namun, aku masih tetap belum bisa mendapatkan alasan yang tepat untuk masuk ke dalam ruangan itu. Karena ia mati karena aku.

Seandainya aku bisa bercakap-cakap dengannya, aku akan berkata, “Hey, ternyata banyak juga orang yang datang ke persemayamanmu.”, dan ia akan segera menjawab, “Lalu, kenapa kau tidak masuk dan memperkenalkan dirimu kepada mereka.”, dan aku kembali terdiam.

Aku mencintaimu sayangku. Oleh karena itu, aku tidak mau masuk ke sana dan membuatmu menjadi bernoda karena aku.

Aku teringat saat pertama kali kita bertemu. Kau melihatku yang tertunduk malu di sebuah pinggiran kota, dengan tubuh lusuh dan penuh lumpur. Di saat semua orang yang lewat berpura-pura tidak melihat aku, hanya kau yang mau datang menghampiriku dan memberikan uluran tangan. Awalnya aku takut, aku tidak mau melihat wajahmu. Namun, ketika perlahan aku mulai memberanikan diri untuk melihatmu, kau tersenyum dengan indahnya. Maka akupun menyambut tangan yang terulur itu.

Sepertinya, banyak orang yang sudah mengetahui keberadaanku. Beberapa orang yang melihat ke arahku, sepertinya mengenal diriku. Tapi aku segera mengelak dan pergi. ketika mereka mulai datang mendekat. Setelah yakin mereka telah pergi, aku kembali ke titik ini untuk melihat dari jauh.

Kalung yang kau berikan ini selalu kukenakan. Aku sangat menyukainya. Karena aku tahu, kau membelinya dari hasil jerih payahmu. Kau gunakan gaji pertamamu untuk memberikan kalung yang indah ini. Walaupun kini kalung ini sudah memudar dan mulai berkarat, aku tidak mau melepasnya.

Kau memberiku sebuah rumah, dikala aku merasa terbuang dan terhina. Kau yang memberikanku makanan dikala tubuhku kurus dan tak terawat. Kau yang memandikanku dengan sabun yang wangi dan melap seluruh permukaan tubuhku dengan handuk yang bersih, dikala aku terlalu takut untuk bergerak dan terlalu malu untuk menerima perlakuan yang istimewa ini. Kaulah yang mengajakku untuk duduk bersamamu sambil menonton TV di larut malam sampai kau tertidur di kursi itu.

Aku tidak bisa memberimu apa-apa. Namun, aku akan selalu menurutimu, dan selalu berusaha menyenangkan dirimu. Tidak pernah aku bosan melihat senyuman di wajahmu, belaian tanganmu dan tatapan sayangmu.

Aku tahu, kau terlalu memanjakanku. Aku juga tahu, sebenarnya aku tidak layak mendapatkan perlakuan istimewa ini. Karena balik lagi aku adalah sesuatu yang terbuang dan tak bernilai. Aku juga tahu, kau tidak mempunyai tubuh yang lengkap, tapi seandainya aku bisa memberikan salah satu kakiku, akupun rela.

Kau selalu bercerita kepadaku bahwa ibumu selalu berkata, “Sekotor apapun salju, toh awalnya dia berwarna putih.”. Awalnya aku tidak pernah mengerti gunamanmu. Namun, ketika aku mengetahui artinya, hatiku luluh dan tunduk hanya untukmu. Kaulah yang menyadarkanku akan arti kehidupan ini. Kaulah yang membuatku merasa berharga dan bermakna untuk hidup bersamamu.

Tubuhku kini lemah tak berdaya. Aku tidak mau makan dan minum semenjak hari itu.

Hari itu adalah hari terburuk yang pernah aku alami. Kau tersenyum padaku, tapi aku tahu kalau kau menyembunyikan sesuatu dari padaku. Kau pergi meninggalkanku dengan tatapan sayangmu padaku, dan berkata, “Tunggu aku malam ini.”. Namun kau tidak pulang malam itu.

Aku terus menunggu, sampai ibumu datang dengan air mata berurai dan mengambil sebuah tas yang kau kemas sebelumnya, yang berisi stelanmu yang paling bagus, lengkap dengan kaus kaki dan sepatu kesayanganmu.

Entah kenapa, sepertinya kau tahu, bahwa waktumu sudah dekat, dan aku sedikitpun tidak menyadari dan tidak menahanmu pergi pada hari itu. Seandainya aku mengetahuinya, aku akan memaksamu untuk tidak pergi hari itu. Kau mati karena aku yang bodoh dan tidak peka ini.

Aku segera pergi mengikuti mobil ibumu, dan membawaku ke tempat ini. Ke tempat dimana aku berdiri dan mencari alasan untuk masuk ke dalam sana.

Tiga hari sudah aku tidak tidur, makan dan minum, tubuhku lemah dan aku juga tahu, bahwa waktuku semakin dekat.

Malam ini, ketika semua orang sudah kembali dan abangmu tertidur di dalam sana, mulailah kuberanikan diri untuk mendekati pintu ruang rumah duka itu dan melangkahkan kaki ke dalanya.

Aku tidak bisa melihat dirimu, tetapi aku tahu, sebuah peti kayu yang terletak di dalam ruangan itu adalah tempat dimana kau dibaringkan. Tubuhku semakin lemah dan mataku semakin berat. Aku tertidur di bawah peti itu. Dingin dan kegelapan datang sangat perlahan. Namun, aku merasa bahagia ketika kembali mengingat saat kau memberikanku kalung ini, sebuah bandul yang bertuliskan namaku hasil pemberianmu, “Snow”.

Kostan – Jakarta – 300910.23.05

Ratu Bulan

September 1, 2008 - 3 Tanggapan

Raja siang sudah kembali ke pembaringannya, dan ratu malan naik ke atas untuk menggantikan sang raja. Sang ratu pada malam ini menggunakan baju sabit kebanggaannya, sangat indah menghiasi singgasananya yang berwarna biru gelap dengan titik-titik gemerlap berlian cahaya.

 

Malam begitu cerah. Hujan gerimis lama yang tadi mengendapkan debu membuat segala singgasana sang ratu malam terlihat begitu megahnya. Bila aku berada di sana, aku dapat melihat ribuan cerita, ratusan ribu kegiatan, dan jutaan orang yang masih berada di jalan pada malam ini. Tetapi, aku pasti akan tertarik akan kisah seorang pemuda yang sedang duduk di pinggir jalan, sebuah halte yang kumuh, yang diam-diam menyeka air mata yang belum sempat mengalir ke pipinya.

 

Aku bertanya pada ibu bumi akan pemuda itu, dan ternyata pemuda itu sudah duduk di sana sejak sore tadi. Ia hanya duduk melihat, menerawang dan termenung melihat arah jalan, jalan yang awalnya sangat ramai dan kini berangsur-angsur sepi. Entah apa yang dilihat olehnya, dipikirkan olehnya dan ditangisi olehnya.

 

Aku bertanya kepada panglima angin akan pemuda itu, pemuda itu menangisi kekasihnya yang memberikan harapan semu yang dinamakan cinta ke dalam lubuk hati sang pemuda. Membuat hatinya menjadi ringan dan melayang, kemudian dijatuhkan, diinjak dan diludahi. Seluruh harkat dan martabat pemuda itu hancur, karena kepercayaan yang telah diberikan seluruhnya menjadi sia-sia dan menjadi bahan ejekan sang kekasihnya.

 

Aku bertanya kepada dewi embun dan hujan, kenapa seseorang bisa menjadi bodoh karena telah ditipu daya oleh karena cinta? Sang dewi embun mengatakan kalau cinta itu sangat indah, segar dan menyejukkan. Sama seperti embun dipagi hari yang sangat indah memainkan pantulan cahaya dari sang raja siang. Sang dewi hujan mengatakan, ketika cinta itu dikhianati akan menyebabkan sebuah luka yang tertoreh tajam dalam hatinya. Ia melanjutkan bahwa sang dewi hujanpun tak mampu membuat hati yang hancur itu larut dan hanyut.

 

Pada malam ini, disaat aku dapat memperlihatkan pakaian sabitku dan singgasanaku yang indah. Seorang pemuda sedang patah hati, dan ternyata pemuda itu adalah aku.

 

 

 

Natalitas

Agustus 19, 2008 - 3 Tanggapan

Sungguh tega!

Kenapa makhluk tak berdosa itu dipaksa keluar dari kediamannya yang aman dan nyaman? Hanya karena keegoisan orang tuanya, dia harus merasakan pahitnya dunia ini?

Aku tahu, teriakkannya karena kaget merasakan udara panas yang langsung masuk kedalam rongga paru-parunya. Ia menderita.

 

Teriakannya berupa raungan yang dinamakan tangisan. Ia merasa sedih dan takut karena keamanannya terusik. Tangis yang keluar dari matanya yang masih terpejam, karena Perihnya akan pedang-pedang cahaya yang menusuk. Ia sangat menderita.

 

Tangannya yang terkepal menunjukkan sesuatu yang ia jaga, yakni sebongkah harapan untuk dapat membuatnya ingat akan sebuah zona yang nyaman dan aman itu. Dengan kuat ia menggenggamnya, berharap tidak ada satupun yang akan mengambilnya, membuatnya terlepas dan jauh darinya. Ia sungguh amat menderita.

 

Akan tetapi orangtuanya menghendaki yang lain. Mereka merasa amat sangat beruntung dapat sebuah nyawa, sebuah jiwa yang murni yang dapat mereka kotori dan rusakkan. Teriakan protes dari anak itu dihentikan karena tipu daya mereka yang mengatakan bahwa dunia ini nyaman. Mata yang terpejam dibukakan untuk melihat segala warna kepedihan, Tangannya yang terkepal dipaksa terbuka, sehingga anak itu melupakan segala keindahan, keamanan dan kenyamanannya.

 

Anak itu bertumbuh. Sekarang ia bisa mengecap segala rasa dunia. Rasa Pahit, Asam dan asin dipalsukan dengan sebuah rasa yang manis. Anak itu dididik dan dibesarkan untuk dapat melihat lebih jelas. Ia dipaksa untuk menghilangkan keburaman matanya agar dapat melihat sebuah tipu muslihat kehidupan yang menyembunyikan kesadisan, kenajisan dan kedurjanaan kehidupan dengan sesuatu yang indah dan berwarna.

 

Akhirnya, anak itu bertumbuh besar dan merasakan kehidupan….. ia tumbuh menjadi serupa dengan orang tuanya dan mengulangi dosa dari mereka. Menciptakan jiwa baru yang dibesarkan dengan tipu daya, kemunafikkan dan pembunuhan. Sebuah proses yang selalu terulang dan lagi…

 

 

 

 

 

 

 

Saat Aku Telah…

Agustus 12, 2008 - 13 Tanggapan

 

Terdengar suara isak tangis seseorang di sampingku. Wajahnya yang cantik dan menawan dibasahi oleh sebuah garis air mata yang mengalir cukup deras ia adalah pasanganku. Di sisi lainnya, terlihat ibuku sedang menggenggam tanganku sambil memejamkan mata yang juga telah dibasahi oleh airmata yang tak henti-hentinya mengalir. Dibelakang kedua sisi ibuku terlihat kakak-kakku yang saling memberikan pelukan dan kekuatan padanya. Tetapi mata mereka pun sembab akiat tangisan. Di dekat jendela kakakku yang lain sedang melihat ke luar berusaha menahan laju air mata itu mengalir. Sedangkan ayahku…… belum juga terlihat. Aku bingung, kenapa mereka menangis?

 

Kemudian, aku dibawa ke dalam sebuah ruangan yang dingin dan beku. Seluruh bajuku di buka dan dilepaskan oleh beberapa orang yang saling membisu dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Aku bisa merasakan dinginnya permukaan keramik tempatku direbahkan, suasana yang sunyi dan sepi semakin membuatku terasa tertekan. Kini aku telanjang tanpa seutas benang sekalipun. Entah kenapa, aku sama sekali tidak merasa malu.

 

Aku terkejut! Air mulai membasahi kepalaku, wajahku, tubuhku sampai kakiku. Tubuhku di gosok dan dibersihkan. Begini toh rasanya ketika dimandikan…. Setelah puas mereka menggosokku dan menyabuniku, tubuhku di lap dengan handuk bersih yang masih putih cemerlang. Mereka mulai memakaikanku pakaian yang baru. Hey, aku tidak suka warnanya. Terkesan terlalu gelap dan formal…..

 

Aku kemudian direbahkan di tempat lain. Di dalam sebuah perebahan yang bagian dalamnya dihiasi oleh kain-kain putih yang bersih. Aku hanya bisa melihat langit-langit….. tanganku diikat membentuk posisi sedang berdoa. Aku hanya bisa melihat langit-langit. Dinding perebahanku terlalu sempit dan tinggi untuk aku.

 

Dalam perebahan aku mulai melihat wajah-wajah yang aku kenal. Ibu, ketiga kakakku, isteriku, dan ayahku yang sekarang sudah melihatku. Ia tidak berkata apa-apa padaku, hanya saja tatapan terkejut dan tidak percayanya sangat jelas tergores di wajahnya. Kemudian ia keluar dari ruangan dan mulai meneteskan air mata. Wajah lelahnya membuat kegagahannya sewaktu muda hilang, apalagi dengan garis mata seperti itu. Ia menghampiri seorang pria yang juga sedang menangisi aku dan mereka mulai berbicara. Aku tidak dapat mendengar percakapan mereka. Teman-teman yang lain bermunculan, bersama dengan wajah-wajah saudaraku yang terlihat sangat kaget.

 

Aku rebahan di tempat itu seharian. Dan pada malamnya, terdengar orang-orang mulai berkumpul, menyanyikan lagu-lagu pujian dan doa. Suasana sangat kyusuk…. Setelah itu mereka berpamitan padaku. Ada yang memegang tanganku,  ada yang hanya datang melihat dan ada pula yang tidak berani mendekat. Semuanya kembali sunyi, Ibuku berkata kepada pria yang tadi diajak berbicara oleh ayahku untuk segera pulang dan beristirahat. Isteriku tetap berada di sampingku menggenggam tanganku dan mengelus-elus rambutku dengan tatapannya yang nanar, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.

 

Beberap tamu datang dan pergi pada malam itu, dan akhirnya pagi sudah datang, dan kembali terdengar nyanyian dan puji-pujian dilantunkan. Aku sangat suka sekali lagu yang aku sukai dinyanyikan. Mereka menyanyikan lagu ” Berserah Kepada Yesus ” lagunya sederhana, tetapi ketika kita perhatikan artinya, lagu itu akan membuatku bergidik karena indahnya. Lagunya seperti ini:

 

Berserah kepada Yesus

Tubuh roh dan jiwaku

Aku ingin s’lalu hidup

Bagi Yesus Tuhanku

 

Aku berserah { 2x }

Pada yesus Juru Selamat

Aku berserah

 

Berserah kepada Yesus

Di kaki-Nya kusujud

Nikmat dunia kutinggalkan

Tuhan t’rimalah aku

 

Setelah lagu itu dinyanyikan, aku tidak dapat melihat apa-apa. Bagian atas dari tempat pembaringanku ditutup, yang aku lihat hanyalah kegelapan yang sangat. Aku mulai merasakan goncangan dipembaringanku.

 

Setelah bergoncang beberapa lama, aku merasakan aku diletakkan di suatu ruangan yang sunyi. Terdengar pintu besi di tutup, dan mulai terasa hangat. Api mulai menghancurkan tempat pembaringanku bersamaan dengan tubuhku. Kulitku semakin hitam, dan hangus. Bau tubuhku yang terbakar sangatlah tidak enak. Anehnya, aku tidak merasakan sakit. Dan setelah beberapa saat, tubuhku sudah mulai menjadi abu dan aku mulai hilang kesadaran.

 

Itulah yang terakhir aku lihat dan rasakan di dunia…..

 

dan kini, penderitaanku belumlah usai……

Rutinitas

Agustus 7, 2008 - 9 Tanggapan

Kubuka jendela yang menghubungkanku dengan dunia nyata, meninggalkan dunia semu yang dinamakan mimpi. Kulihat  tajamnya pedang-pedang cahaya menembus gorden kamarku yang sempit ini, sehingga memusnahkan kesuraman dan beku. Suara gesekan baju yang sedang dicuci, yang disertai senda gurau sang pencucinya menggantikan kicauan burung yang sudah mulai jarang terdengar. Saatnya aku kembali mengulang hari, yang seringkali kita sebut dengan nama rutinitas.

 

Kuambil sisa udara malam ke dalam paru-paruku sebanyak-banyaknya, kusimpan sebentar lalu kubuang kembali. Dengan berat kuangkat  tubuhku yang menolak untuk bangkit, kupaksa terbuka mataku yang berontak ingin tetap menutup, kulangkahkan kakiku yang berat tertahan. Aku harus segera mandi.

 

Kantuk dan kaku tubuh langsung larut dalam butiran air yang jatuh dari tubuhku. Semerbak wangi sabun menguap dan mengisi ruangan kamar mandi ini, benar-benar membuat sukma menjadi lengkap terkumpul dan kesadaran semakin menguat. Kucukur rambut tipis dibawah hidung dan daguku yang tumbuh dalam semalam, dengan maksud membuang segala sesuatu yang tersisa dari hari kemarin. Sehingga akan membuat hari ini menjadi hari yang berbeda. Tetapi, apa yang akan terjadi? Apa yang ada hanyalah sebuah rutinitas mimpi yang selalu terjadi pada pagi hari setiap harinya. Kuseka segala bilur air yang menempel dan aku bergegas berpakaian.

 

Kunyalakan sebual alat yang melantunkan lagu dari sekeping piringan yang berwarna keperakan. Lantunan lagu yang penuh dengan nada-nada minor mulai memberikan semangat kehidupan pada ruangan kecil ini. Kubuat sebuah kopi hitam yang kental dengan sedikit gula, kunikmati dengan menyeruputnya dan membiarkan kopi itu tersebar dan wangi dari kopi itu mengabut dalam rongga mulutku. Kunyalakan sebuah lintingan fiber yang telah dikeringkan setelah direndam dalam cairan tembakau dan daun mint. Kopi tersebut terasa sangat manis dibandingkan dengan kehidupan, dan asam yang ditimbulkan dari hasil pembakaran itu, tidak lagi membuat kita mengernyitkan alis seperti sewaktu merasakan asam dalam hidup.

 

Usai dari semuanya, kembali kuulang rutinitas selanjutnya…..

Berangkat ke sebuah tempat dimana energi, pikiran dan kebebasan direngut, diambil dan digunakan untuk dinilai, dihargai dan digantikan dengan beberapa digit angka yang tersebar dalam pecahan lembaran kertas yang nilainya tidak sesuai dengan barang dan produksinya.

 

Itulah hidup, sebuah repetasi kegiatan yang dinamakan rutinitas.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.