
Terdengar suara isak tangis seseorang di sampingku. Wajahnya yang cantik dan menawan dibasahi oleh sebuah garis air mata yang mengalir cukup deras ia adalah pasanganku. Di sisi lainnya, terlihat ibuku sedang menggenggam tanganku sambil memejamkan mata yang juga telah dibasahi oleh airmata yang tak henti-hentinya mengalir. Dibelakang kedua sisi ibuku terlihat kakak-kakku yang saling memberikan pelukan dan kekuatan padanya. Tetapi mata mereka pun sembab akiat tangisan. Di dekat jendela kakakku yang lain sedang melihat ke luar berusaha menahan laju air mata itu mengalir. Sedangkan ayahku…… belum juga terlihat. Aku bingung, kenapa mereka menangis?
Kemudian, aku dibawa ke dalam sebuah ruangan yang dingin dan beku. Seluruh bajuku di buka dan dilepaskan oleh beberapa orang yang saling membisu dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Aku bisa merasakan dinginnya permukaan keramik tempatku direbahkan, suasana yang sunyi dan sepi semakin membuatku terasa tertekan. Kini aku telanjang tanpa seutas benang sekalipun. Entah kenapa, aku sama sekali tidak merasa malu.
Aku terkejut! Air mulai membasahi kepalaku, wajahku, tubuhku sampai kakiku. Tubuhku di gosok dan dibersihkan. Begini toh rasanya ketika dimandikan…. Setelah puas mereka menggosokku dan menyabuniku, tubuhku di lap dengan handuk bersih yang masih putih cemerlang. Mereka mulai memakaikanku pakaian yang baru. Hey, aku tidak suka warnanya. Terkesan terlalu gelap dan formal…..
Aku kemudian direbahkan di tempat lain. Di dalam sebuah perebahan yang bagian dalamnya dihiasi oleh kain-kain putih yang bersih. Aku hanya bisa melihat langit-langit….. tanganku diikat membentuk posisi sedang berdoa. Aku hanya bisa melihat langit-langit. Dinding perebahanku terlalu sempit dan tinggi untuk aku.
Dalam perebahan aku mulai melihat wajah-wajah yang aku kenal. Ibu, ketiga kakakku, isteriku, dan ayahku yang sekarang sudah melihatku. Ia tidak berkata apa-apa padaku, hanya saja tatapan terkejut dan tidak percayanya sangat jelas tergores di wajahnya. Kemudian ia keluar dari ruangan dan mulai meneteskan air mata. Wajah lelahnya membuat kegagahannya sewaktu muda hilang, apalagi dengan garis mata seperti itu. Ia menghampiri seorang pria yang juga sedang menangisi aku dan mereka mulai berbicara. Aku tidak dapat mendengar percakapan mereka. Teman-teman yang lain bermunculan, bersama dengan wajah-wajah saudaraku yang terlihat sangat kaget.
Aku rebahan di tempat itu seharian. Dan pada malamnya, terdengar orang-orang mulai berkumpul, menyanyikan lagu-lagu pujian dan doa. Suasana sangat kyusuk…. Setelah itu mereka berpamitan padaku. Ada yang memegang tanganku, ada yang hanya datang melihat dan ada pula yang tidak berani mendekat. Semuanya kembali sunyi, Ibuku berkata kepada pria yang tadi diajak berbicara oleh ayahku untuk segera pulang dan beristirahat. Isteriku tetap berada di sampingku menggenggam tanganku dan mengelus-elus rambutku dengan tatapannya yang nanar, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.
Beberap tamu datang dan pergi pada malam itu, dan akhirnya pagi sudah datang, dan kembali terdengar nyanyian dan puji-pujian dilantunkan. Aku sangat suka sekali lagu yang aku sukai dinyanyikan. Mereka menyanyikan lagu ” Berserah Kepada Yesus ” lagunya sederhana, tetapi ketika kita perhatikan artinya, lagu itu akan membuatku bergidik karena indahnya. Lagunya seperti ini:
Berserah kepada Yesus
Tubuh roh dan jiwaku
Aku ingin s’lalu hidup
Bagi Yesus Tuhanku
Aku berserah { 2x }
Pada yesus Juru Selamat
Aku berserah
Berserah kepada Yesus
Di kaki-Nya kusujud
Nikmat dunia kutinggalkan
Tuhan t’rimalah aku
Setelah lagu itu dinyanyikan, aku tidak dapat melihat apa-apa. Bagian atas dari tempat pembaringanku ditutup, yang aku lihat hanyalah kegelapan yang sangat. Aku mulai merasakan goncangan dipembaringanku.
Setelah bergoncang beberapa lama, aku merasakan aku diletakkan di suatu ruangan yang sunyi. Terdengar pintu besi di tutup, dan mulai terasa hangat. Api mulai menghancurkan tempat pembaringanku bersamaan dengan tubuhku. Kulitku semakin hitam, dan hangus. Bau tubuhku yang terbakar sangatlah tidak enak. Anehnya, aku tidak merasakan sakit. Dan setelah beberapa saat, tubuhku sudah mulai menjadi abu dan aku mulai hilang kesadaran.
Itulah yang terakhir aku lihat dan rasakan di dunia…..
dan kini, penderitaanku belumlah usai……