SEKOTOR APAPUN SALJU PADA AWALNYA DIA BERWARNA PUTIH

Apa kalian mengetahui, apa yang akan terjadi setelah kematian?

Pernah aku lihat sebuah stasiun televisi memberikan sebuah gambaran mengenai kehidupan dengan sebuah lilin yang diletakkan di dekat jendela. Lilin itu adalah kehidupan kita, yang semakin lama semakin menyusut karena usia. Pada akhirnya, lilin itu habis dan apinya mati. Itulah yang dinamakan kematian. Namun, lilin itu kembali menyala. Hanya saja, letak lilin itu menjadi berada di sisi lain jendela tersebut.

Itulah yang dinamakan “kepercayaan”. Namun, semua itu hanyalah dugaan yang tidak bisa dibuktikan jika kita tidak mengalaminya secara langsung dan pribadi. Kita tetap tidak bisa menjamin kebenaran akan hal itu. Apakah terjadi seperti yang digambarkan, ataukah yang ada hanyalah kegelapan dan kehampaan abadi?

Aku duduk di sini sambil menerawang, memandang ke arah dalam rumah duka itu. Aku belum berani menjejakkan kakiku ke dalam ruangan itu. Aku hanya bisa terpatung dan terhenti di sini. Aku belum menemukan alasanku untuk segera masuk ke dalam ruangan itu. Walau orang yang wafat itu adalah sobatku, kekasihku, belahan jiwaku dan tulang rusukku, itulah sebutan yang pantas bagi orang itu. Sobat dikala suka dan duka, kekasihku yang mengisi kekosongan hati ini, belahan jiwaku yang membuatku menjadi hidup dan tulang rusukku yang membuat diriku menjadi “lengkap”. Namun, aku masih tetap belum bisa mendapatkan alasan yang tepat untuk masuk ke dalam ruangan itu. Karena ia mati karena aku.

Seandainya aku bisa bercakap-cakap dengannya, aku akan berkata, “Hey, ternyata banyak juga orang yang datang ke persemayamanmu.”, dan ia akan segera menjawab, “Lalu, kenapa kau tidak masuk dan memperkenalkan dirimu kepada mereka.”, dan aku kembali terdiam.

Aku mencintaimu sayangku. Oleh karena itu, aku tidak mau masuk ke sana dan membuatmu menjadi bernoda karena aku.

Aku teringat saat pertama kali kita bertemu. Kau melihatku yang tertunduk malu di sebuah pinggiran kota, dengan tubuh lusuh dan penuh lumpur. Di saat semua orang yang lewat berpura-pura tidak melihat aku, hanya kau yang mau datang menghampiriku dan memberikan uluran tangan. Awalnya aku takut, aku tidak mau melihat wajahmu. Namun, ketika perlahan aku mulai memberanikan diri untuk melihatmu, kau tersenyum dengan indahnya. Maka akupun menyambut tangan yang terulur itu.

Sepertinya, banyak orang yang sudah mengetahui keberadaanku. Beberapa orang yang melihat ke arahku, sepertinya mengenal diriku. Tapi aku segera mengelak dan pergi. ketika mereka mulai datang mendekat. Setelah yakin mereka telah pergi, aku kembali ke titik ini untuk melihat dari jauh.

Kalung yang kau berikan ini selalu kukenakan. Aku sangat menyukainya. Karena aku tahu, kau membelinya dari hasil jerih payahmu. Kau gunakan gaji pertamamu untuk memberikan kalung yang indah ini. Walaupun kini kalung ini sudah memudar dan mulai berkarat, aku tidak mau melepasnya.

Kau memberiku sebuah rumah, dikala aku merasa terbuang dan terhina. Kau yang memberikanku makanan dikala tubuhku kurus dan tak terawat. Kau yang memandikanku dengan sabun yang wangi dan melap seluruh permukaan tubuhku dengan handuk yang bersih, dikala aku terlalu takut untuk bergerak dan terlalu malu untuk menerima perlakuan yang istimewa ini. Kaulah yang mengajakku untuk duduk bersamamu sambil menonton TV di larut malam sampai kau tertidur di kursi itu.

Aku tidak bisa memberimu apa-apa. Namun, aku akan selalu menurutimu, dan selalu berusaha menyenangkan dirimu. Tidak pernah aku bosan melihat senyuman di wajahmu, belaian tanganmu dan tatapan sayangmu.

Aku tahu, kau terlalu memanjakanku. Aku juga tahu, sebenarnya aku tidak layak mendapatkan perlakuan istimewa ini. Karena balik lagi aku adalah sesuatu yang terbuang dan tak bernilai. Aku juga tahu, kau tidak mempunyai tubuh yang lengkap, tapi seandainya aku bisa memberikan salah satu kakiku, akupun rela.

Kau selalu bercerita kepadaku bahwa ibumu selalu berkata, “Sekotor apapun salju, toh awalnya dia berwarna putih.”. Awalnya aku tidak pernah mengerti gunamanmu. Namun, ketika aku mengetahui artinya, hatiku luluh dan tunduk hanya untukmu. Kaulah yang menyadarkanku akan arti kehidupan ini. Kaulah yang membuatku merasa berharga dan bermakna untuk hidup bersamamu.

Tubuhku kini lemah tak berdaya. Aku tidak mau makan dan minum semenjak hari itu.

Hari itu adalah hari terburuk yang pernah aku alami. Kau tersenyum padaku, tapi aku tahu kalau kau menyembunyikan sesuatu dari padaku. Kau pergi meninggalkanku dengan tatapan sayangmu padaku, dan berkata, “Tunggu aku malam ini.”. Namun kau tidak pulang malam itu.

Aku terus menunggu, sampai ibumu datang dengan air mata berurai dan mengambil sebuah tas yang kau kemas sebelumnya, yang berisi stelanmu yang paling bagus, lengkap dengan kaus kaki dan sepatu kesayanganmu.

Entah kenapa, sepertinya kau tahu, bahwa waktumu sudah dekat, dan aku sedikitpun tidak menyadari dan tidak menahanmu pergi pada hari itu. Seandainya aku mengetahuinya, aku akan memaksamu untuk tidak pergi hari itu. Kau mati karena aku yang bodoh dan tidak peka ini.

Aku segera pergi mengikuti mobil ibumu, dan membawaku ke tempat ini. Ke tempat dimana aku berdiri dan mencari alasan untuk masuk ke dalam sana.

Tiga hari sudah aku tidak tidur, makan dan minum, tubuhku lemah dan aku juga tahu, bahwa waktuku semakin dekat.

Malam ini, ketika semua orang sudah kembali dan abangmu tertidur di dalam sana, mulailah kuberanikan diri untuk mendekati pintu ruang rumah duka itu dan melangkahkan kaki ke dalanya.

Aku tidak bisa melihat dirimu, tetapi aku tahu, sebuah peti kayu yang terletak di dalam ruangan itu adalah tempat dimana kau dibaringkan. Tubuhku semakin lemah dan mataku semakin berat. Aku tertidur di bawah peti itu. Dingin dan kegelapan datang sangat perlahan. Namun, aku merasa bahagia ketika kembali mengingat saat kau memberikanku kalung ini, sebuah bandul yang bertuliskan namaku hasil pemberianmu, “Snow”.

Kostan – Jakarta – 300910.23.05

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.